Parfaitless #2

            “Ada kalanya api tak mau menyala lebih besar, bukan karena ia tak menghendaki, melainkan mungkin kayu bakar yg kau pakai adalah kayu basah. Ada kalanya seseorang tiba-tiba tak ingin bersamamu, bukan karena ia tak suka, tapi ada saja yang membuat obrolan denganmu menjadi rasa sakit yang tak bisa ia hadapi terus menerus”…

            Seseorang pernah bertanya, mengapa manusia selalu ingin menang sendiri?. Kadang jawabannya ini dan kadang jawabannya itu. Aku bercerita padanya, karena aku ingin. Aku tak memiliki ekspektasi apapun. Saat dia melakukan hal yang tak kuinginkan, aku mulai gusar. “Bukan seperti ini yang kuinginkan!”,  aku mulai berkata seperti itu. Sampai pada suatu titik “Baiklah, aku salah”.

            Ketika kau sudah memutuskan sesuatu yang sangat ingin kau lakukan, jangan berekspektasi apapun. Ekspektasi tak pernah salah, yang salah adalah ketika ekspektasi itu kau gunakan untuk bertindak seolah-olah memang takdirnya seperti itu. Ekspektasi banyak digunakan untuk menerka-nerka “oh, seperti ini lho yang nanti kira-kira terjadi”. Dan menjadi orang yang memanipulasi ekspektasi seperti itu akan berakhir kecewa sendiri.

            “Dia menatapku..”, Yakin???

            “Dia menatapku, astaga dia menatapku”, ucapmu dengan kegembiraan setengah mati. Saat melewati dia yang sedang berdiskusi dengan teman-temannya, kamu kagok. Saat melihat dia sedang makan di kantin, kamu gugup. Saat dia tidak sengaja ikut kegiatan yang sama denganmu, kamu sampai tak bisa berbuat apapun. Kamu takut terlihat buruk didepannya. Tau apa yang terjadi sebaliknya?. Dia bahkan menatapmu karena tak sengaja. Melihatmu saat lewat didepannya saja dia berfikir bahwa “oh…” hanya seperti itu. Saat berada dalam kegiatan yang sama denganmu saja, dia lebih suka dengan si dia yang banyak berargumen dan terlihat berkelas. Trus gimana?.

            Suka boleh ya, asal tau batas. Wajar adalah batasan terakhir dalam menyukai seseorang. jika menyukainya, jadilah diri sendiri. Ada pepatah yang mengatakan “ Be A Woman with Class”. Tau apa maksudnya?. Jadi perempuan itu harus berkelas. Berkelas dalam arti cerdas dengan caramu. Cerdas karena kamu memang seperti itu. Tidak perlu menjadi orang lain agar menjadi cerdas. Tidak perlu memakai pakaian mewah, make up super elegant, atau membuat ocehan yang useless. Karena kalau kamu cerdas, ya akan tetap cerdas bagaimanapun keadannya. Karena jika kamu cantik, akan tetap cantik apapun pakaian dan make up mu. Karena jika kamu berkelas, memakai kaos rombeng dan celana kedodoran saja kamu terlihat chic dan cantik. Cerdas dan berkelas itu kalau sudah nempel dengan orang yang mereka suka, bakalan tetep nempel kok. So, buat apa merubah diri kalau yang dituju saja ga jelas. Ingat, Be A woman with class.

            Pagi itu, saat membuka instagram, pandanganku dihentikan oleh sebuah nama yang harusnya tak asing bagiku. Laju jari-jariku rasanya sangat berat untuk kembali men-scroll beranda instagramku yang sebenarnya jauh lebih menarik. “Huft, sialan. Apa-apaan ini”, pikirku. Kuputuskan untuk berlabuh pada explore instagram terlebih dahulu. Ada yang harus aku tahan. Entah apa, yang jelas aku yakin bahwa ini benar-benar harus kutahan. Tak mau mengulangi kesalahan yang sama kan?, ucapku pada diri sendiri. Butuh waktu untuk menata semuanya persis seperti awal mula saat itu belum terjadi. Untuk sekedar biasa saja saat namanya muncul atau disebut, susahnya setengah mati. Namanya seperti buronan kejahatan tingkat tinggi dan aku adalah polisinya. Polisi yang bertugas untuk menangkapnya. Polisi yang berbulan-bulan tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

To be Continue…


Comments